
Apakah PC atau laptop kamu yang menggunakan Windows 10 atau Windows 11 mulai terasa lambat? Kamu tidak sendirian. Banyak pengguna Windows mengalami penurunan performa setelah beberapa waktu pemakaian.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli software berbayar atau melakukan upgrade hardware yang mahal. Windows 10 dan Windows 11 sebenarnya sudah dilengkapi dengan berbagai fitur bawaan yang dapat membantu meningkatkan performa sistem.
Dengan melakukan beberapa penyesuaian dan optimasi sederhana, kamu bisa mengembalikan kecepatan PC seperti saat pertama kali digunakan. Kali ini akan membahas cara-cara praktis dan efektif untuk mempercepat performa Windows tanpa perlu menginstal software tambahan apapun.
Mengapa Windows 10/11 Menjadi Lambat?
Sebelum melakukan optimasi, penting untuk memahami penyebab utama Windows menjadi lambat. Dengan mengetahui akar masalahnya, kamu bisa menerapkan solusi yang tepat dan efektif.
Terlalu Banyak Program Startup
Salah satu penyebab utama Windows lambat adalah terlalu banyak program yang berjalan secara otomatis saat startup. Setiap kali kamu menginstal aplikasi baru, banyak dari mereka yang secara default mengatur diri untuk berjalan saat Windows dimulai. Program-program ini akan mengonsumsi resource sistem bahkan sebelum kamu sempat menggunakannya.
Bayangkan jika ada 15-20 program yang berjalan bersamaan saat booting. RAM dan CPU kamu akan langsung tersedot habis, membuat proses startup menjadi sangat lambat. Tidak hanya itu, program-program ini akan terus berjalan di background dan mengurangi resource yang tersedia untuk aplikasi yang benar-benar kamu butuhkan.
File Sampah yang Menumpuk
Seiring waktu, Windows akan mengumpulkan berbagai file temporary, cache, dan file sisa yang tidak lagi diperlukan. File-file ini berasal dari instalasi program, update Windows, browsing internet, dan aktivitas sistem lainnya. Penumpukan file sampah ini tidak hanya memenuhi storage, tetapi juga memperlambat proses pembacaan data.
File temporary yang menumpuk di folder Temp, file installer lama, dan previous Windows installation setelah update bisa menghabiskan puluhan gigabyte space. Semakin penuh storage kamu, semakin lambat performa Windows, terutama jika kamu masih menggunakan HDD.
Visual Effects yang Berlebihan
Windows 10 dan 11 hadir dengan berbagai efek visual yang menarik seperti animasi, transparansi, dan shadow effects. Meskipun membuat tampilan lebih cantik, efek-efek ini membutuhkan resource GPU dan RAM yang cukup signifikan. Untuk PC dengan spesifikasi menengah ke bawah, visual effects ini bisa menjadi beban yang memberatkan sistem.
Transparensi pada taskbar dan Start Menu, animasi saat membuka dan menutup window, serta berbagai efek transisi lainnya sebenarnya tidak terlalu penting untuk produktivitas. Menonaktifkan atau mengurangi efek visual ini bisa memberikan peningkatan performa yang terasa, terutama pada PC dengan RAM terbatas.
Update Windows yang Tertunda
Windows Update yang tertunda atau tidak selesai dengan sempurna juga bisa menyebabkan masalah performa. Sistem akan terus mencoba mengunduh atau menginstal update di background, mengonsumsi bandwidth dan resource sistem. Selain itu, bug atau masalah kompatibilitas pada versi Windows yang lama juga bisa membuat sistem tidak optimal.
Driver yang outdated juga berkontribusi pada performa yang buruk. Driver adalah jembatan komunikasi antara hardware dan software, jadi jika driver tidak update, hardware tidak akan bekerja secara optimal.
Nonaktifkan Program Startup yang Tidak Perlu
Langkah pertama dan paling efektif untuk mempercepat Windows adalah dengan menonaktifkan program startup yang tidak perlu. Metode ini akan membuat proses booting lebih cepat dan menghemat resource sistem.
Cara Mengakses Task Manager
Untuk mengakses pengaturan startup, tekan kombinasi tombol Ctrl + Shift + Esc secara bersamaan untuk membuka Task Manager. Jika Task Manager terbuka dalam mode simplified, klik "More details" di bagian bawah untuk melihat tampilan lengkap.
Setelah itu, klik tab "Startup" di bagian atas. Kamu akan melihat daftar lengkap semua program yang diatur untuk berjalan saat Windows dimulai.
Di sini, kamu bisa melihat nama program, publisher, status (Enabled atau Disabled), dan yang paling penting adalah "Startup impact" yang menunjukkan seberapa besar pengaruh program tersebut terhadap waktu booting.
Memilih Program yang Aman Dinonaktifkan
Tidak semua program startup harus dinonaktifkan. Beberapa program penting seperti antivirus, driver graphics card, atau utility penting lainnya sebaiknya tetap aktif. Namun, program seperti Spotify, Discord, Adobe Creative Cloud, Microsoft Teams, dan aplikasi chat lainnya umumnya aman untuk dinonaktifkan.
Fokus pada program dengan "Startup impact" yang tinggi (High). Klik kanan pada program yang ingin dinonaktifkan, lalu pilih "Disable". Kamu masih bisa menjalankan program-program ini secara manual saat membutuhkannya, hanya saja mereka tidak akan otomatis berjalan saat startup.
Dampak Setelah Menonaktifkan Startup
Setelah menonaktifkan program startup yang tidak perlu, kamu akan merasakan perbedaan signifikan pada waktu booting. Windows akan lebih cepat siap digunakan, dan kamu akan memiliki lebih banyak RAM tersedia untuk aplikasi yang benar-benar kamu butuhkan.
Yang perlu diingat, menonaktifkan program dari startup tidak berarti menguninstall atau menghapus program tersebut. Program masih terinstal di sistem kamu dan bisa dibuka kapan saja secara manual. Perbedaannya hanya pada apakah program tersebut berjalan otomatis saat startup atau tidak.
Bersihkan File Sampah dengan Disk Cleanup
Disk Cleanup adalah tool bawaan Windows yang sangat berguna untuk membersihkan file-file yang tidak diperlukan. Tool ini aman digunakan karena hanya menghapus file yang memang sudah tidak terpakai.
Menjalankan Disk Cleanup Bawaan Windows
Untuk menjalankan Disk Cleanup, buka Start Menu dan ketik "Disk Cleanup", lalu klik aplikasi yang muncul. Pilih drive yang ingin dibersihkan (biasanya C:) dan klik OK. Windows akan menganalisis drive kamu dan menampilkan daftar file yang bisa dihapus.
Kamu akan melihat berbagai kategori file seperti Temporary files, Recycle Bin, Thumbnails, dan lainnya. Centang semua kategori yang tersedia untuk pembersihan maksimal. Untuk hasil yang lebih optimal, klik "Clean up system files" untuk membersihkan file sistem yang lebih besar.
Membersihkan File Temporary
File temporary adalah file sementara yang dibuat oleh berbagai program dan sistem untuk keperluan operasional. Setelah program selesai digunakan, file-file ini seharusnya dihapus otomatis, tetapi sering kali tetap tertinggal di sistem. File temporary bisa menghabiskan banyak space dan memperlambat sistem.
Di Disk Cleanup, pastikan kamu mencentang "Temporary files" dan "Temporary Internet Files". Kamu juga bisa membersihkan file temporary secara manual dengan membuka folder C:\Windows\Temp dan C:\Users[username]\AppData\Local\Temp, lalu menghapus semua isinya.
Menghapus Previous Windows Installation
Setiap kali kamu melakukan update major Windows, sistem akan menyimpan instalasi Windows versi sebelumnya di folder Windows.old. Folder ini bisa mencapai 20-30 GB dan berfungsi sebagai backup jika kamu ingin rollback ke versi sebelumnya. Namun, jika update sudah berjalan lancar, folder ini tidak lagi diperlukan.
Di Disk Cleanup mode system files, centang "Previous Windows installation(s)" dan "Windows upgrade log files". Proses penghapusan ini tidak bisa di-undo, jadi pastikan sistem kamu sudah stabil setelah update. Menghapus folder ini bisa membebaskan puluhan gigabyte space storage.
Optimalkan Visual Effects untuk Performa Terbaik
Mengurangi visual effects adalah salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan performa Windows, terutama pada PC dengan spesifikasi menengah ke bawah.
Mengakses Performance Options
Untuk mengatur visual effects, buka Start Menu dan ketik "sysdm.cpl", lalu tekan Enter. Ini akan membuka System Properties. Klik tab "Advanced", lalu di bagian Performance klik tombol "Settings". Window Performance Options akan terbuka dengan tab Visual Effects aktif.
Di sini, kamu akan melihat daftar lengkap semua efek visual yang bisa diatur. Ada puluhan efek yang bisa diaktifkan atau dinonaktifkan secara individual, dari animasi window hingga shadow effects pada mouse pointer.
Memilih "Adjust for Best Performance"
Cara paling mudah adalah dengan memilih opsi "Adjust for best performance" di bagian atas. Opsi ini akan menonaktifkan semua efek visual dan memberikan performa maksimal. Windows akan terlihat lebih flat dan sederhana, mirip dengan Windows versi lama, tetapi performa akan meningkat drastis.
Setelah memilih opsi ini, klik Apply dan OK. Kamu akan langsung merasakan perbedaannya, terutama saat membuka dan menutup window, serta saat beralih antar aplikasi. Response time akan lebih cepat dan RAM usage akan berkurang.
Pengaturan Visual yang Disarankan
Jika kamu tidak ingin mengorbankan semua efek visual, kamu bisa memilih opsi "Custom" dan hanya mengaktifkan beberapa efek yang penting. Beberapa efek yang disarankan untuk tetap aktif adalah "Show thumbnails instead of icons" agar preview file tetap terlihat, dan "Smooth edges of screen fonts" agar teks tetap nyaman dibaca.
Efek yang sebaiknya dinonaktifkan untuk performa optimal adalah animasi saat minimize dan maximize window, transparansi, shadow effects, dan sliding effects. Kombinasi ini akan memberikan keseimbangan antara tampilan yang cukup baik dengan performa yang optimal.
Nonaktifkan Transparansi dan Animasi
Selain pengaturan visual effects di Performance Options, Windows 10 dan 11 juga memiliki pengaturan tambahan untuk transparansi dan animasi yang bisa diatur terpisah.
Menonaktifkan Transparency Effects
Transparency effects membuat taskbar, Start Menu, dan Action Center terlihat semi-transparan. Meskipun indah secara visual, efek ini membutuhkan resource GPU dan RAM tambahan. Untuk menonaktifkan transparansi, buka Settings dengan menekan Win + I, lalu pilih "Personalization" > "Colors".
Scroll ke bawah dan kamu akan menemukan toggle "Transparency effects". Matikan toggle ini untuk menonaktifkan semua efek transparansi di Windows. Perubahan akan langsung terlihat, dan kamu akan merasakan sistem menjadi lebih responsive, terutama saat membuka Start Menu atau Action Center.
Mematikan Animasi Windows
Windows 10 dan 11 juga menggunakan berbagai animasi untuk transisi antar tampilan. Untuk mematikan animasi, masuk ke Settings > "Ease of Access" > "Display" (untuk Windows 10) atau Settings > "Accessibility" > "Visual effects" (untuk Windows 11). Di sini, matikan toggle "Show animations in Windows".
Menonaktifkan animasi akan membuat transisi antar window dan menu menjadi instant tanpa efek fade atau slide. Ini sangat membantu terutama jika kamu menggunakan PC dengan spesifikasi rendah atau RAM terbatas.
Perbedaan Performa Sebelum dan Sesudah
Setelah menonaktifkan transparansi dan animasi, kamu akan merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Start Menu akan terbuka lebih cepat, taskbar akan lebih responsive, dan keseluruhan sistem terasa lebih snappy. Pada PC dengan RAM 4GB atau kurang, perbedaannya akan sangat terasa.
Memang tampilan Windows akan terlihat lebih flat dan sederhana, tetapi untuk produktivitas, kecepatan dan responsiveness jauh lebih penting daripada efek visual yang mewah. Kamu akan lebih cepat dalam menyelesaikan pekerjaan karena tidak perlu menunggu animasi selesai.
Atur Power Plan ke High Performance
Power plan menentukan bagaimana Windows mengelola konsumsi daya dan performa. Mengubah power plan bisa memberikan boost performa yang signifikan.
Mengakses Power Options
Untuk mengakses power options, klik kanan pada icon battery di system tray (pojok kanan bawah), lalu pilih "Power Options". Alternatifnya, kamu bisa membuka Control Panel > Hardware and Sound > Power Options. Kamu akan melihat beberapa power plan yang tersedia seperti Balanced, Power Saver, dan High Performance.
Di Windows 11, power options bisa diakses melalui Settings > System > Power & battery. Klik "Power mode" untuk melihat berbagai opsi yang tersedia.
Memilih High Performance Mode
Pilih "High Performance" untuk performa maksimal. Power plan ini akan membuat CPU dan GPU bekerja pada clock speed maksimal dan tidak akan menurunkan performa untuk menghemat daya. Ini sangat cocok untuk desktop PC atau laptop yang selalu terhubung ke charger.
Jika opsi High Performance tidak muncul, kamu bisa memunculkannya dengan membuka Command Prompt sebagai administrator dan menjalankan command:
powercfg -duplicatescheme 8c5e7fda-e8bf-4a96-9a85-a6e23a8c635c
Setelah itu, refresh Power Options dan High Performance akan muncul.
Kapan Menggunakan Power Plan Ini
High Performance mode paling cocok digunakan saat kamu membutuhkan performa maksimal, seperti saat gaming, editing video, rendering, atau menjalankan aplikasi berat lainnya. Untuk laptop, gunakan mode ini hanya saat terhubung ke charger karena akan menguras baterai lebih cepat.
Jika kamu menggunakan laptop dengan battery dan mobilitas adalah prioritas, kamu bisa menggunakan Balanced mode untuk keseimbangan antara performa dan daya tahan baterai. Power Saver mode sebaiknya hanya digunakan saat battery sangat rendah dan kamu tidak bisa charge dalam waktu dekat.
Disable Background Apps yang Tidak Diperlukan
Background apps adalah aplikasi yang terus berjalan di belakang layar meskipun kamu tidak membukanya. Aplikasi ini mengonsumsi RAM, CPU, dan bandwidth internet.
Mengakses Privacy Settings
Untuk mengatur background apps, buka Settings dengan Win + I, lalu pilih "Privacy" > "Background apps" di Windows 10. Untuk Windows 11, masuk ke Settings > Apps > Apps & features, pilih app yang ingin diatur, klik three dots, dan pilih "Advanced options".
Di sini, kamu akan melihat daftar semua aplikasi Microsoft Store yang memiliki izin untuk berjalan di background. Kamu bisa menonaktifkan semuanya sekaligus atau memilih secara individual.
Menonaktifkan Background Apps
Untuk performa optimal, nonaktifkan semua background apps yang tidak perlu. Toggle off semua aplikasi kecuali yang benar-benar kamu butuhkan untuk berjalan di background. Aplikasi seperti Weather, News, Tips, dan berbagai pre-installed apps lainnya umumnya tidak perlu berjalan di background.
Dengan menonaktifkan background apps, kamu tidak hanya menghemat RAM dan CPU, tetapi juga menghemat bandwidth internet dan battery (untuk laptop). Aplikasi-aplikasi ini sering melakukan sync dan update di background tanpa sepengetahuan kamu.
Aplikasi yang Boleh Tetap Berjalan di Background
Beberapa aplikasi yang sebaiknya tetap diizinkan berjalan di background adalah aplikasi komunikasi seperti Mail, Calendar, atau messaging apps yang kamu gunakan untuk notifikasi penting. Antivirus dan security apps juga sebaiknya tetap berjalan di background untuk proteksi real-time.
Aplikasi music streaming seperti Spotify atau YouTube Music juga sebaiknya diizinkan jika kamu ingin tetap mendapat kontrol playback dari lock screen. Intinya, hanya izinkan aplikasi yang memang kamu butuhkan fungsi background-nya.
Hapus Aplikasi Bloatware Bawaan Windows
Windows 10 dan 11 hadir dengan berbagai aplikasi pre-installed yang sering disebut bloatware. Aplikasi-aplikasi ini tidak semua berguna dan bisa dihapus untuk mengosongkan space dan resource.
Identifikasi Bloatware di Sistem Kamu
Bloatware adalah aplikasi yang terinstal secara default tetapi jarang atau tidak pernah digunakan. Di Windows, contohnya adalah 3D Viewer, Mixed Reality Portal, Xbox Game Bar (jika kamu tidak gaming), Groove Music, Movies & TV, dan masih banyak lagi.
Untuk melihat semua aplikasi yang terinstal, buka Settings > Apps > Apps & features. Kamu akan melihat daftar lengkap semua aplikasi, termasuk yang pre-installed dari Microsoft. Urutkan berdasarkan size untuk melihat aplikasi mana yang menghabiskan space paling banyak.
Cara Uninstall Aplikasi yang Tidak Terpakai
Untuk uninstall aplikasi, cukup klik pada aplikasi yang ingin dihapus, lalu klik tombol "Uninstall". Beberapa aplikasi akan langsung terhapus, sementara aplikasi lain akan membuka uninstaller yang perlu kamu ikuti step by stepnya.
Untuk aplikasi Microsoft Store yang tidak memiliki tombol uninstall, kamu bisa menggunakan PowerShell. Buka PowerShell sebagai administrator dan gunakan command:
Get-AppxPackage *nama-aplikasi* | Remove-AppxPackage
Ganti "nama-aplikasi" dengan nama aplikasi yang ingin dihapus.
Aplikasi Bawaan yang Aman Dihapus
Beberapa aplikasi yang aman dihapus tanpa mempengaruhi stabilitas sistem adalah 3D Builder, 3D Viewer, Alarms & Clock (jika tidak digunakan), Calculator (jika punya alternatif), Camera (jika tidak punya webcam), Groove Music, Mail and Calendar (jika tidak digunakan), Maps, Movies & TV, OneNote (jika tidak digunakan), Paint 3D, Skype, Solitaire Collection, Sticky Notes (jika tidak digunakan), Voice Recorder, dan Weather.
Jangan hapus aplikasi sistem penting seperti Microsoft Store, Settings, Photos (jika tidak punya alternatif), dan Windows Security. Aplikasi-aplikasi ini penting untuk fungsi dasar Windows dan sebaiknya tetap terinstal.
Matikan Windows Search Indexing
Windows Search Indexing adalah fitur yang mengindeks semua file di PC kamu agar pencarian lebih cepat. Namun, proses indexing ini bisa mengonsumsi resource yang signifikan, terutama pada HDD.
Kapan Perlu Mematikan Search Indexing
Jika kamu jarang menggunakan fitur search di Windows atau sudah tahu lokasi file-file kamu, mematikan indexing bisa meningkatkan performa. Ini terutama bermanfaat jika kamu menggunakan HDD yang lambat. Proses indexing akan terus berjalan di background dan membaca berbagai file, membuat HDD sibuk dan memperlambat aplikasi lain.
Untuk PC dengan SSD dan RAM yang cukup, impact dari search indexing tidak terlalu terasa. Tetapi untuk PC dengan HDD dan RAM terbatas (4GB atau kurang), mematikan indexing bisa memberikan peningkatan performa yang signifikan.
Cara Menonaktifkan Windows Search
Untuk mematikan Windows Search, buka Services dengan mengetik "services.msc" di Start Menu. Scroll ke bawah hingga menemukan "Windows Search". Klik kanan pada service ini, pilih "Properties". Di tab General, ubah "Startup type" menjadi "Disabled", lalu klik "Stop" untuk menghentikan service.
Setelah itu, klik Apply dan OK. Windows Search akan berhenti berjalan dan tidak akan otomatis start saat booting. Kamu mungkin melihat warning bahwa fitur tertentu akan terpengaruh, tetapi untuk kebanyakan user, ini tidak akan menjadi masalah.
Alternatif Pencarian File
Setelah mematikan Windows Search, pencarian file di File Explorer akan menjadi lebih lambat karena harus scanning secara real-time. Sebagai alternatif, kamu bisa menggunakan third-party search tools seperti Everything (gratis) yang jauh lebih cepat dan ringan.
Everything bekerja dengan membaca Master File Table (MFT) pada NTFS drives, sehingga bisa menampilkan hasil pencarian secara instant tanpa perlu indexing. Aplikasi ini sangat ringan dan tidak akan membebani sistem kamu.
Defragment dan Optimize Drives
Defragmentation adalah proses mengatur ulang data di hard drive agar tersusun secara berurutan, sehingga pembacaan data menjadi lebih cepat.
Perbedaan HDD dan SSD
Penting untuk memahami bahwa defragmentation hanya diperlukan untuk HDD (Hard Disk Drive). SSD (Solid State Drive) tidak perlu di-defrag karena cara kerjanya berbeda. Bahkan, melakukan defrag pada SSD bisa mengurangi umur drive tersebut.
Windows sebenarnya sudah cukup pintar untuk membedakan jenis drive dan melakukan optimasi yang sesuai. Untuk SSD, Windows akan melakukan TRIM command yang berbeda dengan defragmentation. Jadi, pastikan kamu tahu jenis drive yang kamu gunakan.
Cara Melakukan Defragment
Untuk melakukan defragment, buka File Explorer, klik kanan pada drive yang ingin di-defrag (biasanya C:), pilih "Properties", lalu klik tab "Tools". Di bagian "Optimize and defragment drive", klik "Optimize".
Window Optimize Drives akan terbuka dan menampilkan status fragmentasi semua drive. Pilih drive yang ingin di-optimize, lalu klik "Optimize". Proses ini bisa memakan waktu dari beberapa menit hingga beberapa jam tergantung ukuran drive dan tingkat fragmentasi. Sebaiknya lakukan saat kamu tidak menggunakan PC.
Jadwal Optimasi yang Disarankan
Windows secara default sudah mengatur scheduled optimization yang berjalan otomatis setiap minggu. Kamu bisa mengecek dan mengatur jadwal ini di window Optimize Drives dengan mengklik "Change settings". Untuk HDD yang sering digunakan, optimasi mingguan sudah cukup.
Jika kamu menginstal dan uninstall banyak program atau sering mendownload dan menghapus file berukuran besar, kamu mungkin perlu melakukan defrag manual lebih sering. Tetapi untuk penggunaan normal, jadwal otomatis mingguan sudah optimal.
Nonaktifkan Tips dan Notifikasi Windows
Windows secara default menampilkan berbagai tips, suggestions, dan notifikasi yang bisa mengganggu dan mengonsumsi resource.
Menonaktifkan Windows Tips
Untuk menonaktifkan tips Windows, buka Settings > System > Notifications & actions. Scroll ke bawah dan matikan toggle "Get tips, tricks, and suggestions as you use Windows". Ini akan menghentikan Windows dari menampilkan tips yang kadang muncul secara random.
Kamu juga bisa mematikan "Show me the Windows welcome experience after updates" untuk tidak melihat informasi tentang fitur baru setelah update. Tips-tips ini mungkin berguna untuk pemula, tetapi untuk user yang sudah familiar dengan Windows, tips ini hanya mengonsumsi resource dan mengganggu workflow.
Mengatur Notification Settings
Di halaman yang sama, kamu bisa mengatur notifikasi dari berbagai aplikasi. Scroll ke bawah ke bagian "Get notifications from these senders" dan nonaktifkan notifikasi dari aplikasi yang tidak penting. Banyak aplikasi yang mengirim notifikasi promosi atau informasi yang tidak relevan.
Kamu bisa menonaktifkan notifikasi dari aplikasi seperti Tips, Microsoft Store suggestions, Get Office, dan berbagai aplikasi lain yang sering mengirim notifikasi tidak penting. Hanya biarkan notifikasi dari aplikasi yang benar-benar kamu butuhkan seperti Mail, Calendar, atau messaging apps.
Focus Assist untuk Produktivitas
Focus Assist adalah fitur yang membantu kamu fokus dengan menyembunyikan notifikasi saat bekerja. Kamu bisa mengatur Focus Assist di Settings > System > Focus assist. Pilih "Priority only" untuk hanya menerima notifikasi dari contacts dan apps yang kamu prioritaskan.
Kamu juga bisa mengatur automatic rules seperti mengaktifkan Focus Assist saat presentasi, gaming, atau saat duplicate screen. Ini sangat berguna untuk menghindari notifikasi yang mengganggu saat meeting atau saat melakukan pekerjaan penting.
Update Windows dan Driver Secara Berkala
Meskipun kedengarannya kontradiktif, memperbarui Windows dan driver secara berkala sebenarnya penting untuk menjaga performa optimal.
Pentingnya Windows Update
Windows Update tidak hanya membawa fitur baru, tetapi juga perbaikan bug, patch keamanan, dan optimasi performa. Microsoft secara rutin merilis update yang memperbaiki masalah performa dan kompatibilitas. Sistem yang tidak update bisa memiliki bug yang membuat performa tidak optimal.
Update juga penting untuk keamanan. Tanpa update keamanan terbaru, sistem kamu rentan terhadap malware dan virus yang bisa memperlambat performa secara drastis. Jadi, meskipun proses update bisa memakan waktu, manfaat jangka panjangnya sangat signifikan.
Cara Update Driver Tanpa Software
Untuk update driver tanpa software tambahan, buka Device Manager dengan mengetik "devmgmt.msc" di Start Menu. Expand kategori device yang ingin diupdate (misalnya Display adapters untuk GPU), klik kanan pada device, lalu pilih "Update driver".
Pilih "Search automatically for drivers" dan Windows akan mencari driver terbaru secara online. Jika ada update, Windows akan download dan install secara otomatis. Metode ini paling aman karena driver yang diinstal sudah diverifikasi oleh Microsoft.
Mengecek Driver yang Perlu Diperbarui
Beberapa driver yang penting untuk diupdate secara berkala adalah driver graphics card (GPU), chipset, network adapter, dan audio. Driver graphics card terutama penting untuk gaming dan aplikasi grafis. Driver network adapter mempengaruhi kecepatan dan stabilitas koneksi internet.
Kamu juga bisa mengecek update driver melalui Windows Update. Buka Settings > Update & Security > Windows Update, lalu klik "Check for updates". Windows tidak hanya akan mengecek update sistem, tetapi juga update driver yang tersedia dari manufacturer.
Restart PC Secara Rutin
Restart adalah cara sederhana namun sangat efektif untuk menjaga performa Windows tetap optimal.
Mengapa Restart Itu Penting
Saat Windows berjalan, berbagai program dan services akan mengonsumsi RAM. Meskipun program ditutup, tidak semua memory langsung dibebaskan. Ada juga memory leaks yang terjadi saat program tidak melepaskan memory dengan benar. Seiring waktu, available RAM akan berkurang dan sistem menjadi lambat.
Restart akan membersihkan semua memory dan menutup semua program serta services yang berjalan. Ini seperti memberikan fresh start untuk sistem. Restart juga menerapkan update Windows dan driver yang tertunda, serta membersihkan cache sistem.
Perbedaan Restart dan Shutdown
Windows 10 dan 11 menggunakan fitur Fast Startup yang membuat shutdown tidak benar-benar membersihkan semua cache dan state sistem. Saat shutdown dengan Fast Startup aktif, Windows menyimpan kernel state ke disk sehingga booting berikutnya lebih cepat, tetapi tidak membersihkan memory sepenuhnya.
Restart tidak menggunakan Fast Startup dan akan benar-benar membersihkan semua state sistem. Jadi, untuk tujuan optimasi performa, restart lebih efektif daripada shutdown kemudian power on. Jika kamu ingin shutdown benar-benar membersihkan state, kamu perlu menonaktifkan Fast Startup di Power Options.
Frekuensi Restart yang Disarankan
Untuk penggunaan normal, restart seminggu sekali sudah cukup untuk menjaga performa optimal. Jika kamu menggunakan PC secara intensif atau menjalankan banyak aplikasi berat, restart 2-3 kali seminggu bisa membantu. Jika sistem mulai terasa lambat atau aplikasi mulai hang, restart bisa menjadi solusi cepat.
Beberapa orang memilih untuk restart setiap malam atau saat tidak digunakan. Ini juga oke, tetapi tidak terlalu necessary jika kamu tidak mengalami masalah performa. Yang penting adalah tidak membiarkan sistem berjalan selama berminggu-minggu tanpa restart sama sekali.
Tips Tambahan untuk Menjaga Performa Windows
Selain cara-cara di atas, ada beberapa tips tambahan yang bisa membantu menjaga performa Windows tetap optimal dalam jangka panjang.
Batasi Tab Browser yang Dibuka - Browser modern seperti Chrome atau Edge sangat rakus RAM. Setiap tab yang terbuka mengonsumsi memory, dan jika kamu membuka puluhan tab sekaligus, RAM akan cepat penuh.
Usahakan untuk menutup tab yang tidak digunakan dan gunakan bookmark untuk menyimpan halaman yang ingin dibaca nanti. Extensions browser juga mengonsumsi resource, jadi nonaktifkan extensions yang tidak terlalu penting.
Gunakan Windows Storage Sense - Storage Sense adalah fitur otomatis yang membersihkan file temporary dan recycle bin secara berkala. Aktifkan fitur ini di Settings > System > Storage, lalu toggle on "Storage Sense".
Kamu bisa mengatur seberapa sering pembersihan dilakukan dan file apa saja yang dihapus. Ini akan membantu menjaga storage tetap bersih tanpa perlu manual cleanup.
Monitor Penggunaan RAM dan CPU - Biasakan untuk membuka Task Manager (Ctrl + Shift + Esc) dan mengecek tab Performance untuk melihat penggunaan RAM dan CPU.
Jika ada program yang mengonsumsi resource berlebihan secara tidak wajar, kamu bisa mengidentifikasi dan menutup program tersebut. Beberapa program memiliki memory leak yang membuat penggunaan RAM terus bertambah seiring waktu.
Hindari Menjalankan Terlalu Banyak Program Sekaligus - Meskipun Windows bisa multitasking, menjalankan terlalu banyak program sekaligus akan membuat sistem kewalahan, terutama jika RAM terbatas.
Tutup program yang tidak digunakan dan fokus pada aplikasi yang benar-benar kamu butuhkan saat itu. Ini tidak hanya meningkatkan performa, tetapi juga membantu kamu lebih fokus dalam bekerja.
Kesimpulan
Mempercepat performa Windows 10/11 tanpa software tambahan sebenarnya sangat mungkin dilakukan dengan memanfaatkan fitur dan tools bawaan Windows. Dari menonaktifkan program startup, membersihkan file sampah, mengoptimalkan visual effects, hingga mengatur power plan, semua metode ini bisa dilakukan sendiri tanpa perlu keahlian teknis khusus.
Kunci dari optimasi Windows adalah konsistensi dan pemahaman tentang apa yang membuat sistem lambat. Tidak perlu menerapkan semua metode sekaligus. Kamu bisa mulai dari yang paling mudah seperti menonaktifkan program startup dan membersihkan file sampah, lalu bertahap menerapkan metode lainnya sesuai kebutuhan.
Kombinasi dari beberapa metode di atas akan memberikan hasil yang optimal. PC atau laptop kamu akan terasa lebih cepat, responsive, dan nyaman digunakan. Yang terpenting, lakukan maintenance secara rutin seperti restart berkala, update Windows dan driver, serta pembersihan file sampah agar performa tetap terjaga dalam jangka panjang.
