Nilai Pendidikan Mengubur Stereotip Para Nelayan di Pulau Garam - MayuhMacah.com - Tingkatkan Pengetahuan dengan Membaca

Nilai Pendidikan Mengubur Stereotip Para Nelayan di Pulau Garam

Nilai Pendidikan Mengubur Stereotip Para Nelayan di Pulau Garam

MayuhMacah.com - Siapa yang tak kenal dengan perahu nelayan di gambar tersebut? Perahu nelayan tradisional warisan budaya yang saat ini masih eksis di negara maritim perairan nusantara.

Perahu nelayan tradisional yang kerap kali digunakan sebagai alat transportasi untuk melihat keindahan tengah laut oleh para nelayan khususnya di pulau garam Madura. Tidak hanya dijadikan alat transportasi saja, para nelayan menjadikan perahu tersebut sebagai alat untuk mencari nafkah.

Keberadaannya sangat dibutuhkan bagi masyarakat pesisir pantai. Selain memang dijadikan sumber mencari nafkah, perahu nelayan juga dinantikan kedatangannya tatkala berlayar menangkap ikan.

Kenapa demikian? Sederet masyarakat pesisir menanti kesegaran ikan yang diperoleh. Negosiasi antar penjual dan pembeli tak sumbang di telinga, jalur sedekah pun juga diperbincangkan. Hal yang sudah mentradisi untuk mengenyam kenikmatan ikan segar di kala nelayan datang. Sungguh menyenangkan bukan?

Senyum semeringah para anak dan istri nelayan, meski tak begitu mahal harga ikan yang diperjual belikan. Nan tak banyak pula uang yang diraih oleh para nelayan, dibandingkan para pekerja tambang, arsitektur, serta para pengusaha, dll.

Namun rasa syukur dari abenthal ombe' asapo' angin (hati yang tak gampang menyerah sekalipun diterjang ombak dan dihempas angin untuk hal yang diinginkan) dapat dilalui, alhasil oreng majeng la tanto mole (semua nelayan akan tiba di pangkalan).

Menurut kalian bagaimana menjadi Nelayan?


"Tak gampang loh berprofesi sebagai nelayan, badai lautan tentu menjadi penghalang untuk pulang. Cara menangkap ikan pun butuh strategi. Terkadang hasil ikan tak sesuai ekspektasi kebutuhan. Membuat kulit gelap akan pancaran sinar matahari, memang butuh nyali dan kebiasaan khusus serta kesabaran untuk mengatasi itu semua."

Menjadi nelayan memang tak semudah membalikkan telapak tangan, sebagaimana kerja keras yang disebutkan di atas dapat memunculkan stereotip dari kalangan pemuda hingga dewasa untuk tidak tercebur dalam profesi nelayan.

Padahal jika ditarik pada fitrah kita sebagai muslim, Allah tidak membeda-bedakan profesi seseorang di hadapan-Nya. Melainkan proses daya juang dan tekun dalam bekerja untuk kebutuhan hidup menafkahi keluarga yang akan memperoleh untaian pahala.

Kalau tak ada nelayan bagaimana kita bisa makan ikan? Kalau tak ada nelayan bagaimana mensyukuri nikmat Tuhan berupa ikan yang telah dihamparkan di lautan? Kalau tak ada nelayan apa fungsi pokok lautan dan ikan diciptakan?

Senada dengan itu, tak perlu tebang pilih bekerja dalam mencecar nafkah. Nikmati prosesnya, syukuri hasil dari jalan rida-Nya. Sahwa sangka rezeki datang tak disangka-sangka. Bagian dari nikmat yang Allah berikan.

Bermula dari mengamati angin dan ombak di lautan, kesiapan mesin dan jaring ikan, pasangnya air laut, kelengkapan personil untuk menangkap ikan, tak lupa juga bahan bakar. Sudah menjadi ciri khas mekanisme para nelayan dalam bersiap untuk mencari ikan.

Nilai pendidikan yang bisa diambil dari para Nelayan


Selain itu, tak banyak juga orang tahu. Bahwa banyak nilai-nilai pendidikan yang dapat kita ambil hikmahnya. Sebagaimana kita amati langsung dari sebuah pengalaman para nelayan ketika berlayar mencari ikan. Nilai-nilai pendidikan tersebut, sebagai berikut:

  • Antar nelayan saling gotong royong ketika mengulur dan menarik jaring ikan.
  • Nilai intelegensi dalam memilih tempat yang dianggap banyak ikan.
  • Nilai nasionalis, sebagian besar perahu ada bendera merah putih.
  • Nilai karakter, diterik panas matahari atau badai laut para nelayan senantiasa bersabar menghadapi.
  • Nilai religius, nelayan akan melaksanakan Shalat ketika masuk waktu Shalat.
Dengan demikian profesi nelayan tidak melulu tentang kesengsaraan dan kerja berat, melainkan dapat dikatakan kaya akan dampak positif terkait nilai-nilai yang terkandung.

Sehingga tak salah, para masyarakat pesisir pantai atau sekitarnya mengepal serta menengadahkan tangan sebagai simbol perjuangan dan doa untuk bekerja sebagai nelayan.

Maka dari itu, masyarakat perlu memusnahkan stereotip yang ada dalam diri. Bekerja sebagai nelayan dapat berkontribusi memajukan perekonomian pribadi dan negara, membantu masyarakat mengenyam ikan, mensyukuri nikmat yang Allah hamparkan.

Sehingga dapat disimpulkan, bekerja sebagai nelayan merupakan kekayaan pribadi serta usaha kerja yang mulia, di samping kaya akan nilai pendidikan keuntungan pun bisa dibanggakan.